Minggu, 24 Juli 2011

suatu malam dipantai sanur


di pundak kiriku kepalamu kau sandarkan
sudah seharusnya kan ?
ketika tangan kiriku juga harus membelai rambutmu
dan lalu sesekali aku sentuh dagumu
mendongakkan kepalamu
untuk bisa aku mengecup keningmu
bahkan bibirmu...
ketika terlalu lama kau diam membisu
saat mendengar aku bercerita
malam itu...
yang meski nggak banyak bintang ada menghiasi
namun purnama telah begitu indah
ada dan rela
menjadi saksi janji kita
ah.....
tiba tiba debur ombak memecah sunyi
kiranya aku hanya berilusi
...
Sanur, 16072011

angin malam

betapa ingin aku menitipkan rindu di lembut desirmu
ketika dingin mengoyak sadarku
dan senyap menerpaku
semerdu dendang serangga malam
menyambutmu
...

jalani saja...

jalani saja yang semestinya kita jalani
mengiringi detak waktu
percayalah akan ada saat menunjukkan
sesuatu yang seharusnya
tentang kita
...

namun dia...

masih seperti dulu setiap yang di katakannya kepadaku
tentang betapa sulitnya dia melupakanku
tentang cinta dan kerinduannya
yang dia bilang angkuh sang waktu pun tak mampu
merubahnya
ya...semua memang masih seperti dulu
bahkan manja sikapnya padaku
namun...

menunggu sapa

sungguh...
dalam diamku aku ingin berbuat sesuatu
untuk kebahagiaanmu
tak sedetikpun waktu aku mampu melupakanmu
apa lagi niat hati meninggalkanmu
kamu adalah hiasan indah esokku
ah...
betapa resah ini melanda hari hariku
menunggu sapamu
...

aku bukanlah sebilah pedang

jangan buat aku hanya seperti sebilah pedang
yang terselip di pinggang
hunus aku setiap kali ada aral rintang penghalang
usah bimbang...
bila harus menebasnya berulang ulang
agar tak kembali menghadang
agar kau tenang
meskipun aku hanyalah sebatang ilalang
yang kau cabut dari padang
nan gersang
...

lembar lembar rindu

bagaimana bisa aku sembunyikan rasaku
bila pada setiap malam
lembar demi lembar kerinduan ini
kau baca...selalu kau baca
namun seolah kau masih tak percaya
bila aku dalam kisah penantian
akan hadirmu
...