Minggu, 13 Maret 2011

menelan sapa

mungkin kau bersama pelangi
yang hadir senja tadi
juga malam ini
yang entah mengapa tak berbintang
sepertinya kau masih ada
meski hanya menatap dari kejauhan
tak nampak  mata
tak bersuara
aku pun sama terhadapmu
sapa tertelan
di padang yang sunyi ini
tak bernyanyi
tak menari
seperti waktu waktu lalu
...

Kamis, 10 Maret 2011

bila tak ada jingga senja nanti

sejenak berhentilah berdendang
masih ada malam
untuk bercerita tentang dia
pada bulan dan bintang
meski terkadang tak nampak cahayanya
pun masih ada senyap
untuk mengadu
bila nanti di senja yang kau lalui
rona jingga tak kau dapati
seperti saat saat lalu
saat cakrawala terlihat begitu indah
bukankah ketika siang
mendung telah kau undang
hingga matahari
terhalang
...

bisik rerumputan...

entah menyayat entah pula tersayat
flamboyan pun tersalahkan
saat diam terpaku
ketika bunga sempat terpetik
lalu tersemat di gerai legam berkelopak putih
dari sebatang rumput liar
yang kemarin tertebas saat meliuk menari
gemerisik bercerita
tentang harapannya di padang gersang
hingga...
buatnya tak peduli lagi pada rinai gerimis
dan hembusan sang bayu
selama ini di helai helai  tajam daun
pencipta dari sajak sajak
kerinduanya
...

Selasa, 08 Maret 2011

sadarku...

padamu...
ketika uluran tangan ini
sudah tiada arti lagi
ketika semua telah berubah
lalu menjadi salah
baiknya kuhapus rangkaian mimpi mimpi
yang ketika itu kuanggap benar
yang kau pun ada di sana
menjadi bagiannya
maka kini...
pada yang semestinya aku miliki
dalam nyata pasti
kan kurengkuh dan jadikannya
sangat berarti
...

Minggu, 06 Maret 2011

lukisan ini...

tiada arti
di sudut ruang hati
sepi...
tergeletak tak berbingkai
setengah jadi
entah kapan kau mau kembali
menyapukan kuas lagi
entah nanti
entah...
tidak sama sekali
...

Kamis, 03 Maret 2011

di Dermaga itu...

sahabat...
di saat temaram senja merona merah
aku tenggelam dalam bias ragu
impian impian yang pernah melintas
beku di antara hari hari sepiku

sungging senyummu datang melintas
membawa syair syair tentang kehidupan
membisikkan bait bait kata merdu
mengalunkan nada nada penuh ceria
membawa ilusiku menerawang jauh
dan jauh sekali

seolah disana ada lentera
seolah di sana ada hamparan asa
seolah hendak menyibak hamparan semuku
seolah hendak membalut lukaku
yang sempat membiru

namun, sahabat...
biarlah sunyi menemani langkahku
di setiap jalan yang aku lewati
biarlah di sudut itu tetap sepi
walau di sana mentari ingin menemani

sahabat...
terlalu jauh dermaga itu kurengkuh
walau aku ingin singgah kesana
membaringkan sejuta beban yang bergayut
berlayar menghalau badai bersama

bisakah  itu terjadi ?

maafkan aku, penantiku...

andai kau tahu yang kurasa
mungkin tak akan pernah ada kata cinta
impian maupun harapan
kau ucapkan

pasti kau akan merasa iba
belas kasihan yang berujung kecewa
karena pada kenyataannya
tak kau sangka

aku terjebak tak berdaya
dalam genangan ragu terlunta lunta
bertopeng tawa ceria
menutup nestapa

Tuhan...
sampai kapan aku mampu bertahan
sembunyikan semua ini ?