Senin, 12 September 2011

melarung rindu

seandainya semilir ini adalah riak riak ombak
di luas gelapnya samudera malam
tentu kan kularung rinduku
namun malam hanyalah karang yang kokoh
tegar tak bergeming
setelah menelan celoteh camar senja tadi
tertimbun hamparan pasir
tak terjejaki
...

itulah rinduku

seolah rasa ini hanya ada padaku
tak merasuki hatimu
tak mengganggu malam malam sepimu
tak pula memberontak pilu
...itulah rinduku
kepadamu
...

aku rindu secangkir senyummu...

kiranya telah terlalu lama aku menghisap kejenuhan ini
menunggu secangkir senyum yang kau seduh dengan keikhlasan
tertuang dengan penuh kesabaran
lalu sehangat dan sepenuh kemesraan kau hidangkan
hanya untukku
...

aku membencimu

kebencian ini nggak akan pernah ada
andai cinta tak pernah ada antara kita
juga duka pada sisa waktu yang ditinggalkannya
karena melupakanmu mana aku bisa
namun mengapa kepercayaan dipermasalahkan
bila masih merasa layak dipercaya
sedang pada kenyataannya
kau masih saja terus mencari hati yang lain
untuk mendengar dan mengerti
suara hatimu
...

sang waktu...

coba saja aku bisa berdialog dengan sang waktu
pasti aku tawarkan padanya
sejenak untuk mampir di berandaku
untuk sekedar berbicara
tentang setiap yang dilaluinya saat aku tak bersamanya
juga tentang esok yang kan ditempuhnya
namun sang waktu hanya membisu dan terus berlalu
tak hiaukan aku yang berlari lari kecil
disampingya
...

BETINAKU

kini aku menjadi sangat benci sekali kepadamu
tahukah kau...?
karena kau adalah virus yang menggerogoti
hatiku
namun mengapa aku
mencintaimu ?
...

senyummu bunga...

jalanan terjal di depanku mampu kutempuh karena hadirmu
senyummu adalah bunga bunga bermekaran
menebar harum wewangian
pengusir bau busuknya luka meradang
di telapak kakiki
...