ketika resah ini datang ketika sudah tak indah lagi yang aku pandang aku berlari ke padang ilalang menghempaskan bimbang
Minggu, 24 Juli 2011
menunggu sapa
sungguh...
dalam diamku aku ingin berbuat sesuatu
untuk kebahagiaanmu
tak sedetikpun waktu aku mampu melupakanmu
apa lagi niat hati meninggalkanmu
kamu adalah hiasan indah esokku
ah...
betapa resah ini melanda hari hariku
menunggu sapamu
...
aku bukanlah sebilah pedang
jangan buat aku hanya seperti sebilah pedang
yang terselip di pinggang
hunus aku setiap kali ada aral rintang penghalang
usah bimbang...
bila harus menebasnya berulang ulang
agar tak kembali menghadang
agar kau tenang
meskipun aku hanyalah sebatang ilalang
yang kau cabut dari padang
nan gersang
...
lembar lembar rindu
bagaimana bisa aku sembunyikan rasaku
bila pada setiap malam
lembar demi lembar kerinduan ini
kau baca...selalu kau baca
namun seolah kau masih tak percaya
bila aku dalam kisah penantian
akan hadirmu
...
dingin malam...
duhai, malam...
mantra apakah yang kau rapalkan
hingga sedingin ini kehadiranmu aku rasakan
kau buat aku lemah terkulai
tersimpuh...
tak mampu berlari
dari kenyataan rasa yang ada
dalam hati
...
beri dia alasan
dia memang hanya berdiam saat kau bicara tentangnya
namun sebenarnya dia tersenyum kepadamu
namun sebenarnya dia tersenyum kepadamu
dan kau tak menyadari kehadirannya
bahkan seolah kau tak pernah mau tahu tentangnya
saat hatinya seringkali berteriak
memanggil namamu
menanyakan sebuah alasan kepadamubahkan seolah kau tak pernah mau tahu tentangnya
saat hatinya seringkali berteriak
memanggil namamu
mengapa seolah ada beribu jarum
menghujam jantungnya
ketika dia rasa kau semakin menjauh
meninggalkannya
...
Sabtu, 25 Juni 2011
serpihan kenangan
begitu banyak serpihan tercecer
di sepanjang jalan yang pernah kita lalui
satu demi satu coba aku punguti
secuil renyah tawamu
juga beberapa lembar senandung rindumu
ada sepotong geliat manjamu
yang terjepit di antara senyum manismu
namun kini...
akankah tetap indah
saat coba aku rangkai kembali
menjadi puisi
...
di sepanjang jalan yang pernah kita lalui
satu demi satu coba aku punguti
secuil renyah tawamu
juga beberapa lembar senandung rindumu
ada sepotong geliat manjamu
yang terjepit di antara senyum manismu
namun kini...
akankah tetap indah
saat coba aku rangkai kembali
menjadi puisi
...
Langganan:
Postingan (Atom)